Loading...

Mengejutkan, Ternyata 6 Ayat Al Quran Ini Ampuh Hancurkan Sihir

2:13:00 pm Add Comment


Membentengi diri dan keluarga dari bahaya sihir harus tetap dilakukan, karena meski zaman sudah modern begini namun masih ada saja orang yang menggunakan sihir demi mendapatkan apa yang diinginkan, seperti misalnya : santet, pelet, teluh, dan lainnya. Untuk menangkal bahaya sihir, kita tidak perlu pergi ke orang pintar atau paranormal, karena banyak Ayat-ayat Al Quran yang bisa dijadikan sebagai benteng untuk menangkal dan melenyapkan pengaruh sihir.  

Kita tinggal membacakannya secara rutin setiap hari dan melakukan ruqyah mandiri terhadap diri, keluarga, rumah, kantor atau apapun yang mungkin bisa terkena kejahatan sihir.  Ingin tahu, apa sajakah ayat-ayat yang bisa menjadi penghancur sihir? Agar lebih jelasnya, simak informasinya berikut ini :

1. Surat Al Fatihah
Surat pertama yang wajib dibaca setiap hari adalah Al Fatihah. Jadi sebelum membaca surat-surat Al Quran lainnya untuk membentengi diri dari gangguan jin dan juga kejahatan sihir lainnya, Anda diwajibkan mengawalinya dengan membaca surat al fatihah.

2. Surat Al Falaq, An Naas, Al Ikhlas, dan Ayat kursy
Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan keempat ayat Al Quran ini, bukan? Keempat surat Al Quran ini sangat dianjurkan untuk dibaca setelah shalat, dzikir pagi dan sore hari serta pada waktu-waktu tertentu karena memiliki keutamaan yang luar biasa, salah satunya menangkal sihir.

3. Surat Al Baqarah ayat 102
Selain ketiga ayat yang disebutkan diatas, ternyata surat al baqarah ayat 102 juga sangat disarankan untuk dibaca sebagai benteng atau perisai terhadap kejahatan sihir.
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).

Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”.
Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”

4. Surat Al A’raaf ayat 117-122
Ayat Al quran lainnya yang membantu lenyapkan pengaruh sihir, adalah Surat Al A’raf ayat 117 – 122, yang artinya adalah :
“Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!”. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, “(yaitu) Tuhan Musa dan Harun”.”

5. Surat Yunus 81-82
Ayat lainnya adalah Surat Yunus ayat 81-82, yang artinya :
“Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).Nabi”

6. Surat Thaha ayat 69
“Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.”
Dengan membaca ayat-ayat Al Quran diatas, maka Anda akan terlindung dari kejahatan sihir. Bagi Anda yang sudah terkena gangguan Jin, mereka akan mengalami tanda-tanda khusus ketika dibacakan ayat ruqyah ini, diantaranya adalah : kesemutan, badan gemetar, sakit kepala yang amat sangat, sesak nafas, muntah-muntah, dan lainnya.

Sumber : KajianLagi
Hal-hal yang Harus Diperhatikan Dalam Membuat sebuah Karya Ilmiah

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Dalam Membuat sebuah Karya Ilmiah

6:30:00 am Add Comment
Dalam membuat sebuah karya ilmiah atau karil, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Hal ini dilakukan agar karya ilmiah yang dibuat lebih mudah dibuat, adapun hal yang harus diperhatikan adalah: Pemilihan topik, Pembuatan Latar belakang permasalahan, Perumusan masalah, Kajian Pustaka, pembahasan, Penutup dan Abstrak

Pemilihan topik/tema:
Untuk memilih dan menemukan  topik, bisa dilakukan dengan  mempertimbangkan hal berikut:
1. pengalaman pribadi dan kehidupan sehari-hari
2. media massa
3. kebutuhan memecahkan masalah
 
Pembuatan latar belakang permasalahan
Latar belakang masalah  menyajikan gambaran yang dapat menjelaskan mengapa  kita melakukan peneltian atau mengupas tentang suatu fenomena.  Biasanya diuraikan dalaam bentuk deduksi, yaitu dimulai dengan hal yang umum  dan diakhiri dengan pembatasan masalah. Ada dua model yang dapat digunakan  di dalam  membuat latar belakang masalah, yaitu :
 
1. menguraikan adanya kesenjangan antara kondisi nyata  dengan kondisi  ideal; Contoh: jika ingin menggambarkan  tentang kondisi kartu sehat di Indonesia, maka dapat digambarkan tentang kondisi nyata masyarakat miskin  di Indonesia yang semakin meningkat dan adanya ketimpangan pelayanan antara masyarakat miskin dan yang kaya ketika meminta pelayanan kesehatan. Uraian ini kemudian dibandingkan dengan norma atau aturan yang berlaku umum, yaitu hak warga negara  untuk memperoleh pelayanan kesehatan tanpa pandang bulu, serta kebijakan pemerintah di bidang kesehatan.

2. menggambarkan perkembangan teori atau suatu kondisi obbjektif tanpa membandingkannya dengan kondisi normatif.  Misalnya masih tentang kondisi kartu sehat di Indonesia, kita hanya mennggambarkan karakteristik suatu gejala secara lebih rinci. Misalnya jumlah orang miskin yang semakin meningkat, serta pelayanan yang  buruk  dalam bidang kesehatan, tanpa membandingkannya dengan norma atau aturan yang berlaku umum, yaitu hak warga negara  untuk memperoleh pelayanan kesehatan tanpa pandang bulu, serta kebijakan pemerintah di bidang kesehatan.

Pada bagian ini, kita dapat memberikan gambaran kondisi objektif dengan menggunakan alat bantu 5W dan 1H, yaitu:
What;  yaitu: apa yang sedang terjadi
Who;  siapa yang mengalaminya
When;  kapan terjadinya
Where; dimana terjadinya
How:  Bagaimana terjadinya

Kelima alat bantu tersebut kita susun sebagai satu rangkaian  cerita yang tidak terpisah


Perumusan Masalah:
Pada dasarnya, perumusan masalah  merupakan penggambaran yang tidak terpisahkan dari paparan yang ada  pada latar belakang permasalahan.  Dalam bagian ini permasalahan sudah lebih terfokus.  Biasanya pada bagian akhir  dimunculkan dalam bentuk kalimat tanya. Contoh tentang kartu sehat tadi, di bagian ini digambarkan  tentang keluhan  masyarakat ketika mereka memanfaatkan kartu sehat. Bagian ini diakhiri dengan pertanyaan “bagaimana pemanfaatan kartu sehat  di puskesmas A?

Kajian pustaka
Kajian pustaka merupakan proses  kajian terhadap teori atau hasil studi terdahulu. Topiknya difokuskan pada  konsep utama yang kita gunakan. Kembali ke contoh kartu sehat maka, fokus kajian pustaka pada teori atau  hasil terdahulu  tentang  kebijakan  di bidang kesehatan dan pelayanan puskesmas.
Hasil dari kajian ini adalah formulasi dari konsep yang digunakan, dan teori apa yang tepat digunakan untuk menganalis fenomena yang kita angkat. Teori dan konsep utama inilah yang nantinya menjadi landasan berpikir kita dalam menganalisa permasalahan kita.


Pembahasan
Bagian ini merupakan inti dari sebuah artikel atau makalah ilmiah. Apa yang kita tuangkan dalam bagian ini tentunya tidak terlepas dari  rumusan masalah yang sudah kita buat. Lalu apa bedanya dengan rumusan masalah yang ada? Dalam bagian pembahasan, kita mulai menggunakan teori, atau kajian pustaka yang sudah kita buat untuk mengupas permasalahan yang ada.  Komponen ini yang sering kali terlupakan, karena kita asik dengan hanya menampilkan hasil temuan (data).  Materi pembahasan bisa bersumber dari hasil penelitian,  merujuk pada pemikiran dari ahli di bidangnya, atau juga hasil pemikiran kita sendiri yang didasarkan pada teori yang ada.  Tentunya keberadaan data empirik akan bermanfaat untuk mendukung argumentasi yang kita berikan. Data emiprik  bisa kita dapatkan dari data sekunder (hasil yang sudah diolah oleh orang lain) misalnya data dari Biro Pusat Statistik (BPS) maupun data primer (hasil pengamatan langsung).

Penutup
Bagian ini biasanya berisi tentang simpulan dan saran.
 
Simpulan
Apa sesungguhnya simpulan? Simpulan bukanlah ringkasan  atau rangkuman. Rangkuman  merupakan  serangkaian kalimat  yang dipersingkat  dari aslinya. Rangkuman memiliki sifat  netral  dari peniliaian.  Sedangkan, simpulan merupakan serangkaian kalimat  yang menunjukkan intisari  dari hasil analisa yang kita lakukan. Sifat dari sebuah  simpulan  didasarkan pada logika berpikir sehingga terbuka untuk diperdebatkan. Simpulan merupakan kebenaran ilmiah  yang didasarkan  pada asumsi teoritis, data empirik yang valid, serta kemampuan analisis.

Saran
Saran merupakan bagian yang berisi temuan jalan keluar dari suatu permasalahan. Saran dikemukakan dengan mengaitkan temuan dalam simpulan dan jika memungkinkan jalan keluarnya juga disampaikan.

Abstrak
Dalam setiap penulisan makalah ilmiah, artikel ilmiah, maupun laporan penelitian, perlu dibuat abstrak penelitian.

Abstrak
Merupakan gambaran  menyeluruh  mengenai isi tulisan yang dibuat secara ringkas  yang  berfungsi memberikan  gambaran kepada pembaca mengenai isi tulisan yang akan  dibacanya. Umumnya abstrak terdiri dari 150 hingga 200 kata.
Paragraf  pertama berisi nama penulis, judul tulisan, jumlah halaman, dan jumlah kepustakaan, yang dituliskan dalam satu rangkai kalimat.
Paragraf kedua berisi latar belakang mengapa tulisan  tersebut menarik.
Paragraf ketiga  berisi tujuan tulisan  dibuat dan bagaimana metode penulisan.
Paragraf terakhir  merupakan jawaban  atas tujuan tulisan tersebut dibuat.
Apa itu Plagiasi? Bagaimana Cara Menghindari Plagiasi

Apa itu Plagiasi? Bagaimana Cara Menghindari Plagiasi

6:25:00 am Add Comment
Apa itu Plagiasi?
Plagiasi atau sering disebut plagiat adalah tindakan atau perbuatan penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator. Singkat kata, plagiat adalah pencurian karangan milik orang lain. Dapat juga diartikan sebagai pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain yang kemudian dijadikan seolah-olah miliknya sendiri. Setiap karangan yang asli dianggap sebagai hak milik si pengarang dan tidak boleh dicetak ulang tanpa izin yang mempunyai hak atau penerbit karangan tersebut. Sesudah 2 × 24 jam berita surat kabar tersiar, maka seseorang dapat mengambil alih dengan syarat harus menyebutkan sumbernya (Wikipedia)

Seperti dari tulisan Sehat Ihsan Shadiqin di Kompasiana, berikut beberapa hal yang bisa disebut plagiasi :
  • ada sebuah artikel, lengkap dari judul hingga penutup atau daftar isi, lalu anda mengganti nama penulisnya dengan nama anda sendiri, seolah tulisan itu adalah tulisan anda. 
  • ada sebuah buku yang terdiri dari berbagai bab. Anda mengambil satu bab mengubahkanya menjadi makalah atas nama anda sendiri. 
  • ada sebuah hasil penelitian yang terdiri dari beberapa bab. Anda mengganti lokasi dan waktu penelitian. Sementara format, teori, metodologinya anda contek dari hasil penelitian tersebut dan anda mengatakan kalau itu hasil penelitian anda sendiri. 
  • ada sebuah tulisan, anda mengganti judulnya dengan judul lain tapi isinya sama saja, lalu anda mengatakan itu tulisan anda sendiri. Di manapun anda mengambil tulisan tersebut. 
  • ada satu atau beberapa paragraf yang anda ambil dari tulisan orang lain tanpa menyebut sumbernya. 
  • ada beberapa paragraf anda ambil dari tulisan orang lain tanpa mengubah bahasanya, meskipun di paragraf awal saja anda mengatakan kalau tulisan itu berasal dari tulisan orang lain, sementara paragraf lain tidak disebutkan lagi meskipun sumbernya sama, itu adalah plagiasi. 
  • anda mengutip tulisan orang lain satu paragraf panjang (lebih dari empat baris) namun tidak membuat tanda kutip atau memadatkan paragrafnya. 
  • ada sebuah “thesis” (kalimat kesimpulan) yang anda baca dari sebuah penelitian, atau sebuah perenungan akademik, lalu anda mengambil “tesis” itu (dengan bahasa yang sama atau tidak), lalu mengatakan itu adalah “thesis” anda sendiri. 
  • anda menyebut satu atau beberapa kata istilah untuk mengabstraksi sebuah realitas yang istilah itu belum lumrah dikenal dalam masyarakat, dan anda mengatakan istilah itu dari anda sendiri. 
  • anda mengambil sebagian atau seluruh tulisan anda sendiri yang pernah anda publikasi di tempat lain untuk melengakapi tulisan anda yang baru tanpa menyebut referensi tulisan yang sudah dipublikasi sebelumnya. 
  • anda meringkas sebuah buku menjadi sebuah makalah atau sebuah esai tanpa mengatakan nama buku yang anda jadikan sumbernya.

Tidak disebut Plagiasi, tapi anda tidak punya etika kalau:
  • membuat sebuah tulisan yang berasal dari kumpulan paragraf dari tulisan orang lain dengan menyebut sumbernya di setiap paragraf yang anda ambil. 
  • menulis sebuah paragraf atau sebuah kalimat yang merupakan milik anda sendiri, namun sumber informasi data dalam tulisan itu sesungguhnya anda peroleh dari sebuah tulisan lain. 
  • anda memiliki sebuah buku bahasa asing dan terjemahannya. Untuk memahami isi buku anda membaca terjemahannya, namun dalam kutipan tulisan anda merujuk pada buku aslinya.

Tidak disebut plagiasi kalau:
  • ada sebuah kalimat statemen umum yang semua orang tahu atau sudah lumrah diketahui, lalu anda mengambilnya. Seperti: “Indonesia adalah negara kepulauan”. 
  • mengungkapkan informasi geografis suatu tempat yang umum diketahui, atau informasi fisik yang tidak terbantahkan meskipun anda membaca dari tulisan orang lain. Seperti: “Aceh berada di ujung barat pulau Sumatera”. 
  • mengutip bulat-bulat ayat dari kitab suci tanpa mengatakan perusahaan yang mencetak kitab suci tersebut, atau siapa yang melayout dan mendesain tata letak isinya. 
  • menulis sebuah abstraksi dari kumpulan berbagai bacaan, pengalaman, pengamatan yang sudah tersimpan dalam memori pikiran anda.

Cara menghindari plagiasi

Menghindari plagiat. Mahasiswa UT harus berupaya sehati-hati dan seteliti mungkin agar tidak tersangkut kasus plagiarisme. Hal-hal yang harus Anda perhatikan antara lain:
 
1. Dilarang menyerahkan sebuah karya ilmiah yang dihasilkan dan/atau telah dipublikasikan oleh pihak lain sebagai karya ilmiah milik Anda sendiri.
 
2. Setiap pernyataan tentang suatu fakta, data, pemikiran, atau pendapat, yang bukan milik Anda, harus disertai dengan menuliskan sumber referensi, kecuali tentang sesuatu hal yang telah dianggap sebagai pengetahuan umum. Contoh:
o Indonesia merupakan negara kepulauan (tidak perlu referensi).

3. Setiap bagian dari makalah Anda yang merupakan kutipan langsung, yaitu menyebutkan secara tepat kalimat dari pengarang lain harus berada di dalam tanda petik, yang didahului oleh nama pengarang asli, tahun terbit, dan halaman publikasi di dalam tanda kurung. Contoh:
o Menurut Dick dan Carey (2009). “Perhaps the most critical event in the instructional design process is identifying the instructional goal” (p.15), atau
o “Perhaps the most critical event in the instructional design process is identifying the instructional goal” (Dick & Carey, 2009, p.15).

4. Gunakan kutipan langsung seminimal mungkin.
Jika Anda hanya mengambil ide dari sumber lain, sedangkan kalimat yang Anda kemukakan adalah kalimat Anda sendiri maka cukup disebutkan sumbernya, tanpa tanda petik. Contoh:
o Skinner (1945). menyebutkan bahwa ….., atau
o ……. (Skinner, 1945).

5. Dilarang menulis karya ilmiah yang merupakan gabungan dari beberapa karya ilmiah milik orang lain dengan hanya mengubah sedikit kalimat dan kata sambung. Walaupun sumber referensi telah disebut dengan benar, tetapi karya ilmiah tersebut bukan milik Anda.
 
6. Dilarang mengumpulkan atau mengunggah makalah yang sama yang telah Anda kumpulkan untuk tugas atau publikasi lain.
 
7. Dilarang membeli, meminjam, atau menggunakan makalah, artikel, skripsi, tesis, dan disertasi karya orang lain dan menjadikannya sebagai karya Anda.
 
8. Hindari meminjamkan karya ilmiah yang telah Anda tulis kepada teman lain apa pun alasannya, sebelum dipublikasikan melalui Jurnal Online UT. 




Contoh Karya Ilmiah (Karil) Sederhana

Contoh Karya Ilmiah (Karil) Sederhana

6:06:00 am Add Comment
Hai Sobat, membuat Karya Ilmiah (Karil) itu terkadang menjadi beban tersendiri bagi seseorang, karena itu akan kami berikan Contoh Karya Ilmiah Sederhana, dengan adanya contoh berikut semoga bisa meringankan beban dalam membuat Karil.


Abstrak:
Azis Sugihartono, kenakalan remaja: penyebab dan antisipasinya, 50 halaman, 4 bibliografi,

Dalam perkembangan hidup  manusia, masa remaja merupakan masa yang paling rawan. Pada masa ini, seseorang  sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan ini pun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Seringkali kesalahan ini menimbulkan kekesalan bagi lingkungan, yang pada gilirannya disebut sebagai kenakalan remaja.

Dengan demikian, tulisan ini akan melihat lebih jauh tentang faktor-faktor yang dapat menimbulkan kenaklaan remaja, serta bagaimana cara untuk menghindarkan seseorang untuk terlibat dalam kenakalan remaja. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah dengan mengumpulkan data sekunder, serta dengan menggunakan hasil pengamatan.

Dari hasil pengamatan dan data sekunder didapat kesimpulan bahwa remaja memang rawan dengan kenakalan. Kenakalan dapat datang dari berbagai segi, baik dari segi pergaulan, pendidikan, pemanfaatan waktu luang, penghargaan uang, dan perilaku seksual. Oleh karena itu, orang tua, masyarakat, sekolah, dan remaja itu sendiri harus mampu mengendalikan diri untuk menghindari berbuat negatif. Cara yang dilakukan, yaitu menumbuhkan rasa malu berbuat jahat dan takut akibat perbuatan jahat.




KENAKALAN REMAJA:PENYEBAB DAN ANTISIPASINYA

Latar Belakang
Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi tua tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering menimbulkan kekhawatiran bagi para orang tua. Padahal bagi remaja, masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, para orang tua hendaknya berkenan menerima remaja sebagaimana adanya. Jangan terlalu membesar-besarkan perbedaan. Orang tua hendaknya justru menjadi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mengawasi segala tindak-tanduk si remaja.
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa (Ahmadi, 2006:112). Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang  remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan ini pun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan.
Kesalahan yang dilakukannya sering menimbulkan kekhawatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orang tuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahankesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut.
a.Hal-hal apa sajakah yang dapat menyebabkan timbulnya kenakalan remaja?
b.Bagaimanakah kiat untuk menangkal agar terhindar dari pengaruh kenakalan remaja?


Pembahasan
Hasan (2005:79) mengatakan bahwa masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian yang khusus sejak dibentuknya suatu peradilan untuk anak-anak nakal tahun 1899 di Amerika Serikat. Dalam pandangan umum, kenakalan anak di bawah umur 13 tahun masih dianggap wajar, sedangkan kenakalan anak di atas usia 18 tahun dianggap merupakan salah satu bentuk kejahatan. Dalam makalah ini hanya akan dibahas kenakalan yang dilakukan oleh para remaja dalam usia 13 sampai dengan 18 tahun.

A.Penyebab Timbulnya Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah sebagai berikut.

1.Pengaruh Kawan Sepermainan
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin  banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan teratas, misalnya anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya.
Di zaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga para orang tuanya. Orang tua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Akan tetapi, jika tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu  pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orang tua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik atau obat terlarang dan lain sebagainya.
Pengaruh kawan ini memang cukup besar dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja. Oleh karena itu, para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam bergaul. Jangan bergaul dengan kawankawan yang tidak benar.
Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, akan banyak menimbulkan masalah bagi orang
tuanya. Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, remaja hendaknya mempunyai teman bergaul yang sesuai. Orang tua pun hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Orang tua perlu memberi pengertian yang jelas, sekaligus berilah teladan.
Dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak untuk keluyuran yang tidak menentu dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Para remaja harus berlatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, remaja harus tahu tentang batasan teman yang baik.
Beberapa petunjuk tentang kriteria teman baik adalah sebagai berikut: memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati. Menjaga barangbarang dan harta kita apabila kita lengah. Memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya. Tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan. Membantu sanak keluarga kita.
Sebaliknya, kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi: Penjudi. Orang yang tidak bermoral. Pemabuk. Penipu. Pelanggar hukum.

2.Pendidikan
Memberikan pendidikan yang sesuai merupakan salah satu tugas orang tua kepada anak. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Adakalanya sekolah yang penanganannya kurang displin sehingga memungkinkan anak untuk berbuat negatif, misalnya banyaknya jam kosong akan memicu anak ramai dan berbuat onar di kelas.
Anak pasti juga mempunyai hobi tertentu. Namun demikian, kadang-kadang hobi akan mengalahkan segalanya, termasuk tanggung jawabnya sebagai pelajar. Padahal tugas utamanya adalah bersekolah, sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utamanya telah selesai dikerjakan. Jika penyaluran hobi salah sasaran, juga akan mengakibatkan berkurangnya pengendalian diri.

3.Penggunaan Waktu Luang
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah.
Namun demikian, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Sering perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orang tuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng dan berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan, misalnya ngebut tanpa lampu di malam hari, mencuri, merusak, minum-minuman keras, obat bius, dan sebagainya.
Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawankawannya. Akhirnya ia terjerumus. Tersesat.

4.Uang Saku
Orang tua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja harus belajar menghargai nilai uang. Mereka hendaknya berlatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’. Budayakan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat.
Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun demikian, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah sebagai berikut.
a.Anak menjadi boros.
b.Anak tidak menghargai uang.
c.Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang.

5.Pergaulan Bebas
Pada masa ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul dengan lain jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya.
Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Oleh karena itu, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Sedangkan, pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di zaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil.  Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.

B.Kiat Mengatasi Kenakalan Remaja
Sebagian besar orang tua di zaman sekarang sangat sibuk mencari  nafkah. Mereka sudah tidak mempunyai banyak kesempatan untuk dapat mengikuti terus kemana pun anak-anaknya pergi. Padahal, kenakalan remaja banyak bersumber dari pergaulan. Oleh karena itu, para remaja hendaknya memahami pendidikan hukum, agama, dan sosial. Dengan pendidikan ini kemana saja anak pergi ia akan selalu ingat pesan orang tua dan dapat menjagai dirinya sendiri. Anak menjadi mandiri dan bisa dipercaya, karena dapat mengendalikan dirinya sendiri. Selama seseorang masih memerlukan fihak lain untuk mengendalikan dirinya sendiri, selama itu pula ia akan berpotensi melanggar peraturan bila si pengendali tidak berada di dekatnya. Inti pendidikan dapat dibedakan sebagai berikut.
1.Malu Berbuat Jahat
Benteng penjaga pertama agar remaja tidak salah langkah dalam hidup ini adalah menumbuhkan rasa malu melakukan perbuatan yang tidak benar atau jahat. Para remaja harus tahu perbedaan dan akibat perbuatan baik dan tidak baik. Perbuatan benar dan tidak benar. Orang tua dan guru memiliki peranan dalam memberikan penjelasan kepada para remaja. Kejelasan orang tua menerangkan hal ini akan dapat menghilangkan keraguan anak dalam mengambil keputusan. Keputusan untuk memilih kebaikan dan meninggalkan kejahatan.
Penjelasan akan hal ini sebaiknya diberikan sejak dini, semakin awal semakin baik. Apabila anak sudah dapat dengan jelas membedakan kebaikan dan keburukan, tahap berikutnya adalah tumbuhkan rasa malu untuk melakukan kejahatan. Kondisikanlah pikiran remaja punya rasa malu, merasa tidak pantas melakukan pelanggaran peraturan masyarakat. Mengkondisikan munculnya rasa malu dapat menggunakan cara seperti ketika orang tua mengenalkan pakaian kepada anak-anaknya. Orang tua selalu berusaha memberikan pakaian yang layak untuk anak-anaknya. Namun demikian, apabila suatu saat anak mengenakan pakaian dengan tidak pantas atau mungkin tersingkap sedikit, orang tua segera membenahinya dan mengatakan, menegaskan bahwa hal itu memalukan.
Sikap itu masih berkenaan dengan masalah pakaian fisik. Pakaian batin pun juga demikian. Orang tua bila mengetahui bahwa anaknya melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas maka katakan segera bahwa hal itu memalukan. Kemudian orang tua memberikan saran agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Bila perbuata itu masih diulang, berilah sanksi. Berilah hukuman yang mendidik bila perbuatan itu tetap diulang. Usahakan dengan berbagai cara, agar anak tidak lagi mengulang perbuatan yang tidak baik itu.
2. Takut Akibat Perbuatan Jahat
Para remaja harus menumbuhkan rasa takut akibat perbuatan jahat. Remaja harus tahu bahwa akibat perbuatan buruk akan berdampak pada remaja itu sendiri, orang tua, keluarganya, serta lingkungannya. Menumbuhkembangkan perasaan malu dan takut melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan inilah yang akan menjadi pengawas setia dalam diri setiap orang, khususnya para remaja. Selama dua puluh empat jam sehari, pengawas ini akan melaksanakan tugasnya. Kemanapun si remaja pergi, ia akan selalu dapat mengingat dan melaksanakan kedua hal sederhana ini. la akan selalu dapat menempatkan dirinya sendiri dalam lingkungan apapun juga sehingga akan mampu membahagiakan dirinya sendiri, orang tua dan lingkungannya. Orang tua sudah tidak akan merasa kuatir lagi menghadapi anak-anaknya yang
beranjak remaja. Orang tua tidak akan ragu lagi menyongsong era globalisasi. Orang tua merasa mantap dengan persiapan mental yang telah diberikan kepada anak-anaknya.
Oleh karena itu, pendidikan anak di masa kecil yang sedemikian rumit tampaknya, akan dapat
dinikmati hasilnya di hari tua.

Penutup
Remaja memang rawan dengan kenakalan. Kenakalan dapat datang dari berbagai segi, baik dari segi pergaulan, pendidikan, pemanfaatan waktu luang, penghargaan uang, dan perilaku seksual. Oleh karena itu, orang tua, masyarakat, sekolah, dan remaja itu sendiri harus mampu mengendalikan diri untuk menghindari berbuat negatif. Cara yang dilakukan, yaitu menumbuhkan rasa malu berbuat jahat dan takut akibat perbuatan jahat.

Rujukan
Anindyarini, Atikah. 2008. Bahasa Indonesia: SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
“Cara Penulisan Daftar Pustaka”. Januari 2010. http://skripsimahasiswa.blogspot.com/ diakses 19 Februari 2012.
Murniasih, Tri Retno dan Sunardi. 2008. Pelajaran bahasa Indonesia 3: untuk SMP/MTs kelas IX. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
“Teknik Penulisan Karya Ilmiah, Makalah, Tesis, Disertasi”. 2010. http://www.kosmaext2010.com/ diakses 19 Februari 2012.


Di unduh dari http://joko-suryanto.blogspot.com/2012/02/ragam-karya-ilmiah-sederhana-dan.html, pada hari Senin, 18 Maret 2013, pukul 13.35 WIB.

Sistematika Penulisan Karya Ilmiah (Karil) Universitas Terbuka (UT)

Sistematika Penulisan Karya Ilmiah (Karil) Universitas Terbuka (UT)

5:57:00 am Add Comment
Hai sobat, membuat Karya Ilmiah atau Karil adalah salah satu persyaratan kelulusan yang harus dilakukan oleh mahasiswa Universitas Terbuka (UT), oleh karena sifatnya wajib, maka mahasiswa UT harus benar-benar memperhatikan ini karena salah dalam membuat Karya Ilmiah bisa berakibat tidak lulus-lulus. Salah satu yang harus diperhatikan dalam membuat Karil adalah Sistematika penulisan Karil.

Berikut kami rangkum sistematika penulisan Karya Ilmiah (Karil)

A. Artikel (hasil penelitian) memuat:
1. Judul
2. Abstrak
3. Pendahuluan (tanpa subjudul, memuat latar belakang masalah dan sedikit tinjauan pustaka, dan masalah/tujuan penelitian)
4. Metode
5. Hasil dan Pembahasan
6. Kesimpulan dan Saran
7. Daftar Pustaka (berisi pustaka yang dirujuk saja)

B. Artikel (hasil pemikiran, ide dan gagasan) memuat:
1. Judul
2. Abstrak
3. Pendahuluan (tanpa subjudul)
4. Isi, dituliskan subjudul sesuai dengan kebutuhan
5. Penutup (atau Kesimpulan dan Saran)
6. Daftar Pustaka (berisi pustaka yang dirujuk saja)


Ketentuan lain yang harus diikuti:
1. Artikel merupakan karya asli, bukan plagiat, dan belum pernah diterbitkan pada media lain.
2. ukuran kertas : A4
3. ketikan : 1,5 (satu setengah) spasi
4. jumlah halaman : 7 - 12 halaman
5.  Manuskrip direkam  dalam bentuk doc & docx, rtf, atau odt.
6. Tabel harus dibuat langsung dalam word processor (tabel standar) bukan konversi dari program excel atau yang lainnya
7. Penulisan Daftar Pustaka: menggunakan American Psychological Association (APA) Style 
(Buku: nama belakang, singkatan nama depan. (tahun). Judul. Nama tempat penerbitan: Penerbit)
Periodicals/jurnal ilmiah: nama belakang, singkatan nama depan. (tahun). Judul artikel. Nama Periodicals, vol (nomor), nomor halaman.

Demikian Sistematika Penulisan Karya Ilmiah Universitas Terbuka, semoga dengan tulisan singkat ini bisa membantu anda dalam membuat Karil.